Dari Sepeda Onthel Menuju Cahaya Ilmu: Kisah Perjuangan Mbah Kyai. Hasannadji

Oleh: Amelya Amandha*


Pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di medan perang atau tercatat dan
diresmikan dalam buku Sejarah. Pahlawan sejati bisa hadir ditengah-tengah kita sebagai sosok
sederhana yang penuh pengabdian dan keteladanan. Pahlawan sejati seringkali tidak tampak
disorotan publik, namun mereka tetap memberikan dampak besar melalui kebaikan yang
mereka sebarkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tokoh yang layak disebut sebagai
pahlawan dalam kehidupan nyata adalah Mbah Kyai. Hasannadji.

Mbah Kyai Hasannadji merupakan pendiri Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin
Balen. Beliau adalah sosok yang mempunyai semangat luar biasa dalam menuntut ilmu,
berjuang dengan penuh kesabaran, dan mengabdikan hidupnya untuk agama serta masyarakat.
Sejak muda, Mbah Kyai Hasannadji dikenal memiliki tekad yang kuat untuk menuntut ilmu
agama. Beliau berkeinginan untuk mondok, namun keinginan tersebut sempat ditentang oleh
kedua orang tuanya. Meskipun demikian, beliau tidak mudah menyerah, selalu mencari cara
dengan kecerdikan dan kesungguhan hati agar keinginannya mendapat ridho dari orang tua.
Salah satu upaya yang unik adalah kebiasaan beliau menghabiskan seluruh hidangan makan
yang disajikan ibunya, sehingga membuat sang ibu jengkel. Setelah kejadian itu berulang kali
dilakukan, akhirnya orang tuanya luluh dan memberikan izin agar beliau bisa menimba ilmu
dipondok pesantren. Tindakan sederhana namun penuh makna tersebut menggambarkan beliau
betapa gigih dan cerdas dalam memperjuangkan cita-cita. Tekad untuk belajar tidak pernah
pudar meski harus menghadapi rintangan dari orang terdekatnya. (Nur, 2025, 12 November).

Setelah mendapat restu, Mbah Kyai Hasannadji menjalani kehidupan pesantren dengan
penuh kesederhanaan. Beliau menempuh perjalanan ke pesantren menggunakan sepeda onthel
mulai dari Balen ke Babat, Kediri, dan ke pondok-pondok yang lain. Semua itu dilakukan
semata-mata untuk Tholabul Ilmi. Pada masa di pondok, beliau rajin menulis bahkan sering
menjadi penyalin kitab kuning milik teman-temannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Selain itu, beliau juga berdagang kurang lebih 15 tahun dipesantren. Dengan demikian, beliau
menjadi bukti bahwa perjuangan menuntut ilmu tidak hanya soal membaca, menghafal, tetapi
juga tentang kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan yang serba terbatas.
(Nur, 2025, 12 November).

Setelah bertahun-tahun mencari ilmu, Mbah Kyai Hasannadji terpanggil untuk
mengamalkan dan menyebarkan pengetahuannya. Beliau mulai berdakwah di Desa Balenrejo,
Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro sebuah daerah yang saat itu masih minim
pengetahuan agama. Kemudian dengan tekad dan semangat dakwah, beliau mendirikan
Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, yang sampai saat ini dikenal sebagai salah satu pusat
pendidikan islam diwilayah tersebut. Pesantren yang didirikan Mbah Kyai Hasannadji bukan
hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga wadah pembinaan akhlak dan karakter.
Melalui ajaran dan keteladanan, Mbah Kyai Hasannadji berhasil menanamkan nilai-nilai
kesederhanaan, kedisiplinan, dan keikhlasan kepada para santrinya. (Hizbulloh, 2025, 12
November)

Selain dikenal sebagai pendiri pesantren, Mbah Kyai Hasannadji juga mempunyai
kebiasaan-kebiasaan baik yang menjadi teladan bagi banyak orang. Beliau terbiasa berwudhu
sebelum bepergian, rutin membaca Al-Qur’an sesudah shalat isya’, dan rajin membaca Dalailul
Khairat setiap selesai shalat subuh. Kegiatan rutin tersebut mencerminkan betapa kuatnya
spiritualitas yang beliau miliki. Menjelang akhir hayatnya, beliau memberikan pesan berharga
kepada salah satu putranya K.H. Abdullah Hilmi Al-Djumadi yaitu supaya tidak meninggalkan
shalat. Pesan sederhana ini mengandung makna mendalam. Pesan tersebut mengingatkan
bahwa shalat adalah tiang agama dan sumber kekuatan dalam kehidupan sehari-hari yang harus
dijaga. (Al-Jumadji, 2025, 12 November)

Kisah perjuangan Mbah Kyai hasannadji mengajarkan kita bahwa pahlawan sejati bisa
hadir dalam berbagai bentuk. Beliau bukan pahlawan yang mengangkat senjata atau terlibat
dalam peperangan, melainkan pahlawan ilmu dan dakwah yang berjuang melalui pena, do’a,
dan keteladanan. Semangat beliau dalam menuntut ilmu dan membimbing kebaikan
menjadikan inspirasi yang sangat berharga bagi santri dan masyarakat sekitar.

Semangat berjuang, kesabaran, serta keikhlasan Mbah Kyai Hasannadji patut dijadikan
inspirasi bagi generasi muda masa kini. Beliau membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat,
kerja keras, dan niat yang tulus seseorang bisa menjadi pahlawan dilingkungan masyarakat
sekitar. Melalui kisah hidup beliau, mari kita teladani jiwa semangat belajar tanpa henti,
semangat berdakwah tanpa pamrih, dan semangat berbuat baik kepada sesama supaya bisa
berkontribusi dalam membangun bangsa. Mbah Kyai Hasannadji tidak tercatat dalam buku
sejarah nasional, namun jasa dan perjuangannya akan selalu hidup dalam hati para santri dan
masyarakat sekitar. Beliau adalah pahlawan sejati yang lahir dari kesederhanaan, namun
meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.

*) Juara 2 Lomba Menulis Esai “Semangat Hari Pahlawan 2025: Temukan Pahlawan di Sekitarmu” yang diselenggarakan oleh KSPP Syariah BMT NU Balen.

Tags :

Facebook
Twitter
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *