Ibu Taryaningsih dan Perjuangan Membangun Ruang Inklusif bagi Disabilitas

Oleh: Husnul Fauziyah*

Pahlawan tidak selalu datang dengan seragam dan tanda jasa. Kadang mereka hadir dalam sosok sederhana. Sebagimana hadirnya seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di salah satu SLB yang ada di Kabupaten Trenggalek, yang memilih berdiri bersama mereka yang terpinggirkan. Di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sosok Ibu Taryaningsih atau akrab disapa Bu Tarya, membuktikan bahwa kepahlawanan sejati terletak pada keberanian mengubah nasib sesama dengan tindakan nyata.

Sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Trenggalek, Bu Tarya menyaksikan langsung realitas pahit yang dihadapi penyandang disabilitas. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Trenggalek tahun 2022 mencatat 5.356 penyandang disabilitas di wilayah ini. Angka yang terus meningkat signifikan dari 1.670 orang pada 2018. Di balik angka statistik tersebut, tersimpan kisah-kisah diskriminasi, keterbatasan akses, dan mimpi-mimpi yang terkubur.

Yang membuat Bu Tarya berbeda adalah empatinya yang terlahir dari pengalaman pribadi. “Saya memutuskan untuk dekat dengan para penyandang disabilitas karena salah satunya karena saya pernah seperti mereka,” ungkapnya. Pengalaman hidup inilah yang menjadi benih kepahlawanannya, ia memahami bahwa penyandang disabilitas bukan objek kasihan, melainkan subjek yang berhak atas kehidupan bermartabat.

Tahun demi tahun, Bu Tarya mengumpulkan dana dari berbagai penghargaan yang diraihnya sebagai guru. Ketika tabungannya terkumpul, ia membeli lahan seluas 1.030 meter persegi di Desa Prambon. Namun, mimpi besar membutuhkan pengorbanan besar. Total Rp 200 juta dana pribadi dikeluarkan, ditambah hutang kepada berbagai pihak, plus bantuan donatur yang totalnya mencapai puluhan juta rupiah. Semua diinvestasikan untuk satu tujuan: membangun kawasan inklusif pertama bagi penyandang disabilitas di Trenggalek.

Keputusan ini bukan tanpa risiko. Seorang guru dengan penghasilan terbatas memilih menanggung hutang demi impian yang bahkan tidak menjamin keuntungan finansial. Namun bagi Bu Tarya, ada hal yang jauh lebih berharga dari uang: martabat dan masa depan saudara-saudara sebangsa yang selama ini terpinggirkan.

Kawasan inklusif yang dibangun Bu Tarya bukan sekadar perumahan biasa. Setiap detail dirancang dengan kesadaran penuh akan kebutuhan penyandang disabilitas. Jalur masuk dilengkapi bidang miring (ramp) untuk pengguna kursi roda. Guiding block dipasang tidak hanya di dalam kawasan, tetapi juga terhubung hingga ke rumah-rumah warga sekitar, memudahkan tunanetra berinteraksi dengan tetangga. Pintu rumah menggunakan sistem geser, dan seluruh perabotan dapur didesain khusus untuk aksesibilitas.

Yang paling menarik adalah konsep “Satu Rumah Satu Usaha”. Bagian depan setiap rumah menggunakan kaca bening yang berfungsi sebagai etalase. Dari balik kaca tersebut, penyandang disabilitas menawarkan berbagai jasa dan produk: menjahit, salon, toko kelontong, percetakan, jasa pijat, hingga pembuatan kue. Ada kisah menyentuh tentang seorang penyandang cerebral palsy yang menjalankan usaha percetakan menggunakan stick game untuk mendesain, bukan mouse biasa, menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang berkarya.

Skema kepemilikan rumah pun dirancang dengan jiwa sosial. Rumah dijual seharga Rp 88 juta, harga yang tidak mengambil keuntungan. Sistem cicilan sangat fleksibel, dimulai dari Rp 300.000 per bulan, disesuaikan dengan kemampuan pembeli. “Terserah. Kalau mereka kuatnya Rp 300.000, biarin nyicil ke saya Rp 300.000 per bulan tidak apa-apa,” ujar Bu Tarya dengan penuh kelembutan.

Keajaiban sesungguhnya terjadi ketika kawasan inklusif mulai berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Penyandang disabilitas yang dulunya terisolasi, kini aktif terlibat dalam kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, menghadiri pengajian, sholawat, dan sholat berjamaah di Mushola Asy-Syifa yang dibangun di kawasan tersebut. Mereka ikut rewang saat ada hajatan, berpartisipasi dalam penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha, bahkan belanja sayur bersama di pagi hari.

Seorang penghuni kawasan inklusif menuturkan, “Meskipun saya memiliki keterbatasan fisik, tetapi tetap bisa berbaur dengan masyarakat umum tanpa ada diskriminasi.” Pernyataan sederhana ini merangkum pencapaian luar biasa Bu Tarya: mengubah paradigma masyarakat dan membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan praktik keseharian.

Masyarakat sekitar merespons positif dengan membeli produk dan menggunakan jasa yang ditawarkan penyandang disabilitas. Dukungan ini bukan hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga membangun jembatan kemanusiaan yang menghapus sekat diskriminasi.

Perjuangan Bu Tarya mewujudkan nilai-nilai kepahlawanan sejati. Pertama, keberanian mengambil risiko untuk kepentingan orang banyak. Kedua, pengorbanan tanpa pamrih dengan mengorbankan kenyamanan finansial pribadi demi kesejahteraan sesama. Ketiga, visi jangka panjang yang tidak mencari popularitas, melainkan perubahan sistemik.

Seperti pahlawan kemerdekaan yang berjuang melawan penjajah, Bu Tarya berjuang melawan penjajahan sosial berbentuk stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Jika pahlawan dulu berjuang dengan senjata, Bu Tarya berjuang dengan empati, dedikasi, dan kerja nyata yang mengubah hidup ratusan keluarga.

Di tengah zaman yang sering mengukur kesuksesan dari akumulasi materi, Bu Tarya mengingatkan kita bahwa kepahlawanan sejati terletak pada kerelaan berbagi dan membangun martabat sesama. Kawasan inklusif Trenggalek bukan hanya kompleks hunian, melainkan manifesto kemanusiaan yang menjadi bukti bahwa satu orang dengan niat tulus dapat mengubah dunia.

Semangat Hari Pahlawan 2025 mengajak kita menemukan pahlawan di sekitar. Bu Taryaningsih adalah jawaban atas ajakan tersebut. Ia membuktikan bahwa pahlawan tidak perlu menunggu perang untuk berjuang, tetapi mereka berjuang di tengah kehidupan sehari-hari, di ruang-ruang yang sering terlupakan, untuk mereka yang sering terabaikan.

*) Juara 3 Lomba Menulis Esai “Semangat Hari Pahlawan 2025: Temukan Pahlawan di Sekitarmu” yang diselenggarakan oleh KSPP Syariah BMT NU Balen.

Tags :

Facebook
Twitter
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *